Tools
A+ R A- wide normal
  • Skip to content

logo

  • Home
  • Profil
    • Salam Ketua Umum
    • Sejarah HMI
    • Tema Kepengurusan
    • Struktur Pengurus
    • Profil Pengurus
    • Profil Cabang-cabang
      • Cabang-cabang Utara
      • Cabang-cabang Barat
      • Cabang-cabang Tengah
      • Cabang-cabang Timur
      • Cabang-cabang Sumatra Raya
      • Cabang-cabang Papua
    • Kontak Kami
  • Lembaga
    • LDMI
      • Tentang LDMI
      • Taushiyah
      • Kuliah Jumat
    • LSB
      • Tentang LSB
      • Cerpen
      • Puisi
      • Slilit
  • Aktivitas
    • Pernyataan Sikap
    • Kegiatan PB HMI
    • Kegiatan Cabang
    • Kliping Media
    • Foto Kenangan
  • Artikel
    • Opini
    • Pidato
    • Kolom Ketua
  • Beasiswa & Seminar
    • Beasiswa
    • Seminar
  • Download
    • Hasil Kongres XXVII
    • Lagu Perjuangan
    • Buku Tentang HMI
  • Buku Tamu
  • Pustaka
Berita Terhangat
Sikap Nilai HMI : Oleh: Bahrul Amsal Merujuk pada Anthony Giddens...
Korupsi: Rakyat Tertindas Pejabat Terbahak : Berbicara tentang korupsi di negeri ini sudah san...
Krisis Kritis Mahasiswa : Oleh: Rusdy (Kader HMI Komisariat Fakultas Adab Da...
Masyarakat Sipil dan Demokratisasi Lokal : Oleh : Nurul Huda*) Pasca reformasi ekspresi m...
Tambang Emas Poboya; Antara Investasi dan Kerusaka... : Oleh: Mahadin Hamran (Ketua Umum HMI-MPO Cabang Pa...
Indonesia dan Masyarakatnya yang Hilang : Oleh: Bahrul Amsal (Ketua Komisi Pengembangan Inte...
Tangkaplah Pula Bajing yang Lain : Oleh: Alto Makmuralto (Novelis, Ketua Umum PB H...
Tradisi Intelektual Islam : Oleh: Mahadin Hamran (Ketua Umum HMI-MPO Cabang Pa...
Secara Substansi Kita Belum Merdeka: Refleksi HUT ... : Oleh: Zulkifli Abdullah (Kader HMI-MPO Cabang Mak...
Membumikan Nilai Ramadhan : Oleh: Zaenal Abidin Riam   Perputaran waktu kemb...

Buku

Masa Depan Tuhan

Masa Depan Tuhan

Oleh: Komaruddin Hidayat ...

Artikel

Sikap Nilai HMI

Monday, 26 March 2012 04:41 okselamat
Tweet
Oleh: Bahrul Amsal Merujuk pada Anthony Giddens. Saat ini kita berpacu dalam “dunia yang tunggang langgang”, terbirit-birit, berputar pada poros yang sama, saat ini. Dunia mengalami percepatan dan penyempitan, mode kehidupan berubah kemudian mengalami keterperosokan dalam lingkaran dendam dan kebencian yang menuai distopia dimana-mana. Situasi kontemporer ini terasa ketika kita memperhatikan dengan seksama kehidupan berbangsa. Indonesia sebagai entitas kebangsaan yang berpijak pada pancasila sebagai gugus moral dalam menjalankan praktik kehidupan yang menjelma dalam daily politics, situasi yang terbilang sebagai pembalikan dalam tubuh kebangsaan kita. Dimana-mana kekerasan mengambil bentuk dalam peristiwa yang berbeda, menggandakan diri dalam proses politik, perpecahan terajut dalam proses yang kian hari kian menggrogoti tubuh bangsa. Konkatenasi ini akhirnya menyentuh salah satu penopang dari sebuah bangsa, yaitu kaum muda, sebagai generasi yang hampir memakan porsi terbesar dalam jumlah, tentunya kaum muda juga berperan dalam menentukan masa depan sebuah bangsa. Tidaklah berlebihan kalau situasi kontemporer saat ini “merusak” para kaum muda dengan proses politik, kaum muda terjebak dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk ikut campur tangan dalam kondisi perpolitikan yang keropos. Indonesia mengalami pembusukan, kaki-kaki bangsa yang di topang oleh kesamaan identitas, kesatuan bahasa, dan visi kedepan yang ditopang oleh moralitas yang mengejewantah dalam pancasila, semua ini mengalami kemunduran ketika imperatif moral dalam konstitusi akhirnya menemui kebuntuan, ketika konstitusi di rombak dengan amandemen, kekeroposan ini terbukti ketika langgam kebangsaan di gantikan dengan langgam komunal. Etnisitas menjadi perekat dalam mengatasi kekosongan, jarak yang panjang antara bangsa dan orang-orang yang membayangkan diri sebagai bagian dari sebuah bangsa. Dalam kondisi politik yang tidak bersandar pada moralitas konstitusi, kehidupan politik menjadi sangat liquid dalam artian bahwa semangat untuk menegakkan politik dengan ideologi sudah berhenti. Francis Fukuyama dalam hal ini membilangkannya kedalam kematian sejarah, tidak berlebihan bahwa situasi tanpa gagasan besar atau pikiran mengenai perubahan untuk mewujudkan sebuah tatanan akhirnya melahirkan peradaban yang sentimentil dan hanya merayakan permukaan. Moment kesementaraan dalam politik ini terjadi dalam tubuh bangsa kita sendiri, pancasila sebagai totalitas dalam menjalankan politik di pinggirkan. Peminggiran ideologi seperti ini berakibat pada melemahnya komitmen kebangsaan dan konstitusi kehilangan landasan moralnya, amandemen menghasilkan penghapusan nilai dan identitas menjadi kososng, masuknya gejala internasionalisme dalam berbagai bentuk pada akhirnya memperparah pengeroposan yang terjalin dari dalam. Henri Lefebvre pernah merumuskan sebuah adagium, bahwa pada dasarnya tidak ada ruang yang absen dari politik, menilik dengan cara seperti ini untuk melihat kenyataan politik di Indonesia adalah baru, ruang-ruang politik kita dijejali hanya dengan kesemuan pada permukaan, politik tidak menjadi semacam senjata untuk menaklukkan masa depan, politik absen pada nilai. Politik hanya menjadi hingar-bingar dan perayaan yang sementara. Mari kita arahkan politik sebagai senjata ideologis pada kaum muda, bahwa mereka memasuki ruang-ruang politik pada segala level, tetapi mereka di rusak oleh mekanisme politik dan menghablur dalam permainan yang tidak tahu dimana ujung-pangkalnya. HMI MPO sejak awal merumuskan politik berdasarkan nilai. Hal ini terbaca dalam traktat ideologisnya yang bernama Khittah Perjuangan, terangkum dalam tafsirnya dan visi kedepan yang mengharuskan untuk di laksanakan, Bila merujuk pada pendekatan Luhman, maka boleh dibahasakan HMI MPO adalah entitas yang selayaknya autopoietic. Konsep autopoietik ini merujuk kepada diversitas-diversitas sistem-sistem dari sel biologis. Struktur yang di dalamnya plasma-plasma menjadi pusat dari sel-sel. Metafora ini, menjelaskan bahwa HMI MPO sebagai tatanan organik, dari model seperti ini, kami hendak membawa para pembaca kepada cara pandang yang bertugas secara fungisional untuk melihat HMI MPO sebagai sebuah batang tubuh organisasi. Bila kaca mata ini kita gunakan, maka dengan serta merta akan memberikan kepada kita pandangan yang sifatnya dialektis, sebab pada pandangan Luhman, sebuah organisasi dengan segala diversitasnya akan saling mengalami proses pengaruh-mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya pada tingkatan maupun bagiannya. Sebagai sebuah plasma yang inheren dengan sub-sub sistemnya, maka HMI MPO tentunya memiliki sistem dasar yang menjadi fungsi integritas bagi jaringan kerja sistem-sistemnya. Islam sebagai plasma dasar, di dalam habitus organisasi yang memiliki fungsi sebagai gugusan system of thought bagi organisasi, bisa jadi mengalami proses konvergensi dengan tata gugus pemikiran lain yang berasal dari luar batasannya. Jika perihal ini terjadi, Islam sebagai autopoietic telah menagalami kondisi self organizing. Self organizing adalah bentuk pengorganisasian tentang bentuk diri yang melakukan dua model kerja sekaligus. Model kerja yang pertama, yakni Islam dalam pengertian HMI MPO akan melakukan proses pembatasan sistem-sistemnya dan kedua menerapkan pengorganisasian strukrur internalnya sendiri. HMI MPO lahir dalam sebuah alur konjuktural sejarah. Kaum muda menjadi subjek bagi Khittah Perjuangan. Segala praktik hidup di dasarkan pada aksioma yang telah di bangun dari landasan ini, terutama bagaimana menafsirkan keindonesiaan dan kebangsaan dalam bingkai ideologi islam, menyelamatkan kaki-kaki bangsa kita dari kehancuran dan menjadikan Islam sebagai karunia bagi semua yang ada dimuka bumi adalah tugas terpenting, dimana saat ini dignitas tidak lagi digenggam dalam tangan dan kedaulatan terampas. [] Bahrul Amsal, Ketua Bidang Perkaderan HMI Badko Sulambanusa

Korupsi: Rakyat Tertindas Pejabat Terbahak

Tuesday, 20 December 2011 19:40 redaksi
Tweet

kartini Berbicara tentang korupsi di negeri ini sudah sangat membosankan, sepertinya korupsi sudah menjadi makanan basi bagi rakyat, namun tetap menjadi makanan lesat bagi para koruptor. Di koran, di TV, di radio, hampir tiap hari berita tentang korupsi tidak pernah ketinggalan. Selalu saja menjadi bumbu pelengkap pemberitaan dalam media massa.

Dalam hari anti korupsi yang diperingati dunia belum lama ini, tak ketinggalan mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di tanah air turun kejalan, menyorakkan isi hati mereka dan pesan-pesan dari rakyat yang tertindas. Bahkan salah satu mahasiswa dari UBK, Sondang Hutagalung, nekat membakar diri di depan Istana negara Republik Indonesia.

Sondang sepertinya ingin menujukkan kepada pemerintah bahwa rakyat telah bosan dengan keadaan bangsa sekarang ini. “Rakyat tertindas, pejabat terbahak,” mungkin itulah kalimat yang tepat untuk sekarang ini. Melihat kondisi bangsa yang sangat terpuruk, Serasa kita mengulang sejarah yang pernah ada, yakni zaman jahiliyah, mungkin inilah gambaran zaman jahiliyah versi sekarang ala Indonesia.

Negara Indonesia yang kita cita-citakan menjadi negara yang aman, makmur dan sejahtera sangat sulit untuk di wujudkan saat ini, jika budaya korupsi masih saja terus menjalar dalam tubuh pemerintahan Indonesia. Sekarang ini sangat sulit membedakan antara kawan dan lawan, sulit membedakan pemimpin dan “penjahat”. Jika mereka mempunyai kepentingan, rakyat di perlakukan baik, diberi janji-janji manis seakan-akan semua yang mereka lakukan hanya untuk rakyat, tapi seketika semua yang diinginkan telah terwujud, rakyat ditelantarkan, janji terlupakan.

Para pejabat negara dengan bangga memakai mobil mewah melewati sepanjang jalan dengan pengawalan ketat, pandangan kedepan, tanpa menengok kanan kiri melihat keadaan di sekelilingnya di mana para gelandangan, anak jalanan, pengamen dan peminta-minta bertebaran demi sesuap nasi. Pengangguran setiap tahun bertambah, korupsi merajalela, pelanggaran HAM di mana-mana. Inikah yang mereka sebut sebagai suatu kemajuan bangsa?

Mereka sebagai wakil rakyat bukannya memikirkan bagaimana negara ini bisa maju, bisa makmur, agar rakyat sejahtera. Malah lebih memikirkan mobil mewah, rumah megah, menumpuk harta sebanyak-banyaknya yang ujung-ujungnya korupsi juga. Benar juga lelucon yang mengatakan “jika rakyat miskin berpikir untuk hari esok mereka mengatakan, ‘besok makan apa?’, namun jika para koruptor berpikir untuk hari esok mereka mengatakan, ‘besok makan siapa?’.” Memang sungguh memprihatinkan keadaan tanah air tercinta ini.

Sangat mengherankan, Indonesia yang begitu kaya dengan hasil alamnya yang melimpahruah, namun terlilit banyak hutang, penduduknya banyak yang terkena penyakit busung lapar. Hasil bumi tidak dimanfaatkan untuk kemakmuran rayat, malah disalah gunakankan oleh kelompok tertentu. “Indonesia kaya, tapi miskin” itulah kalimat yang cukup membingungkan untuk dimengerti, tapi itulah Indonesia.

Korupsi di Indonesia memang sulit untuk diberantas, namun tidak menutup kemungkinan budaya korupsi itu bisa dihilangkan. Kita  hanya Perlu ketegasan hukum untuk para elit pencuri yang bersembunyi di balik topeng kekuasaannya. Pemerintah harus meluangkan tenaga ekstra serta kerja sama yang baik dengan rakyatnya agar ‘budaya’ korupsi tidak berlanjut pada genarasi bangsa berikutnya.

Perlu juga ditanamkan pendidikan agama,  terutama pendidikan akhlakul karimah terhadap anak bangsa serta peningkatan terhadap SDM di negara Indonesia, agar generasi penerus bangsa bisa menjadi memimpin yang berbudi pekerti luhur dan tetap bisa mengikuti perkembangan zaman. Dan yang pastinya budaya korupsi tidak menjangkit pada mereka. Sehingga cita-cita awal yang menginginkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang aman, makmur, rakyat sejahtera dapat terlaksana.

*Eka Kartini, Kader HMI Komfak Adab UIN Sunan Kalijaga

Krisis Kritis Mahasiswa

Saturday, 17 December 2011 12:00 redaksi
Tweet

chozinOleh: Rusdy (Kader HMI Komisariat Fakultas Adab Dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

 

Kritis merupakan satu sifat yang mungkin tidak bisa dipisahkan dari yang namanya Mahasiswa. Hal itu tidak keliru, mengingat mahasiswa memiliki modal lebih dari pada masyarakat kebanyakan baik dalam bidang keilmuan atau pun pengalaman. Perjalanan sejarah bangsa ini, mulai dari kebangkitan nasional, kemerdekaan, hingga masa reformasi menempatkan mahasiswa sebagai bagian yang memiliki peran penting. Para pemuda pelajar tersebut selalu mempunyai ide cemerlang yang mampu mengubah peradaban di setiap zamannnya. Perjuangan mereka pun merupakan usaha yang murni, dipandang netral, bersih dan bebas dari kepentingan-kepentikan apapun yang bersifat pragmatis.

Romantisme tersebut masih kita banggakan dan masih dielu-elukan hingga saat ini. Kita bangga dengan masa lalu mahasiswa yang begitu cemerlang. Predikat “Agen Perubahan” pun masih kita yakini tersemat pada tiap diri kita. Hingga kita tersadar dan perlu bertanya, masih pantaskah gelar kebanggaan itu dihadiahkan pada mahasiswa zaman ini?

Sangat disayangkan, ketika kondisi negara ini dilanda masalah yang semakin kompleks, peran mahasiswa justru mulai meredup. Kemajuan teknologi dan akses informasi yang begitu  mudah yang seharusnya dijadikan modal dan insprasi mahasiswa untuk menuangkan gagasan-gagasan cemerlang serta sarana kritik untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik, justru membuat mahasiswa terlena dan mengabaikan masa depan bangsanya serta lupa akan peri-kemahasiswaannya, yaitu sikap kritis.

Read more...

Masyarakat Sipil dan Demokratisasi Lokal

Monday, 10 October 2011 14:09 redaksi
Tweet

Oleh : Nurul Huda*)

Pasca r1Hudaeformasi ekspresi masyarakat sipil (civil society) dalam ranah demokrasi kembali hidup. Faultier (2001) dikutip Dzuriyatun Toyibah menjelaskan bahwa sejak reformasi 1998 tengah terjadi peningkatan fungsi masyarakat sipil. Fenomena peningkatan fungsi masyarakat sipil di tingkat lokal berkembang seiring waktu, yang kembali mewarnai alur demokrasi di Indonesia.

Read more...

Tambang Emas Poboya; Antara Investasi dan Kerusakan Lingkungan

Sunday, 02 October 2011 05:47 redaksi
Tweet

Oleh: Mahadin Hamran (Ketua Umum HMI-MPO Cabang Palu)

 

Keberadaan tambang emas Poboya yang akan dikelola oleh perusahaan Central Palu Mineral (PT CPM), anak perusahaan dari PT Bumi Resources, patut untuk dikaji. Selama ini, nuansa kepentingan ekonomi-politik di Poboya lebih dominan dibandingkan dengan kajian ilmiah yang didasarkan pada kesadaran akan keselamatan masyarakat secara keseluruhan. Sebab, sudah terbukti ketika wacana ekonomi-politik dipisahkan dari nilainya (moralitas), hanya akan mendukung investasi demi keuntungan para elit tertentu, daripada keselamatan manusia dan lingkungan di masa depan.

Read more...

More Articles...

  • Indonesia dan Masyarakatnya yang Hilang
  • Tangkaplah Pula Bajing yang Lain
  • Tradisi Intelektual Islam
  • Secara Substansi Kita Belum Merdeka: Refleksi HUT RI ke-66
  • Membumikan Nilai Ramadhan

Page 1 of 34

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Joomla 1.6
HMI MPO on Facebook | Milis HMI MPO | Milis Cabang | Web Mail PB HMI | Redaksi
PBHMI.Net @2011