Oleh: Alto Makmuralto
(Novelis, Ketua Umum PB HMI-MPO periode 2011-2013)
Seekor bajing bernama Nacar baru saja tertangkap. Dialah biang keladi yang memusingkan banyak orang. Satu desa dibuatnya panik dan meradang, lantaran isi kebun-kebun kelapa habis tak membuahkan apa-apa. Bajing Nacar tidak hanya membocori buah-buah kelapa, memakannya di atas pohon, tetapi juga membawa kabur kelapa-kelapa itu, lalu menjualnya kepada tengkulak.
Warga yang sudah tidak tahan, berencana menggelar operasi besar-besaran menangkap jenis bajing Callosciurus Notatus itu. Mereka nekad bertindak sendiri, sebab pikir mereka, aparat desa tak mungkin diharap menuntaskan kasus semacam ini. Pengalaman yang sudah-sudah membuktikan kalau pamong desa acuh tak acuh dengan perilaku para bajing.
Mendapat kabar tentang rencana operasi itu, bajing Nacar langsung kabur. Ia menghilang seketika, entah ke mana.


Bagi sebagian kalangan anak muda, tanggal 14 Februari adalah hari yang penting. Hari tersebut tak ubahnya seperti hari raya yang khusus diperuntukkan bagi kawula muda, ialah hari Valentin, hari kasih sayang (iedul hubb) yang kini marak dirayakan di mana-mana. Padahal dulunya peringatan tersebut hanya muncul di daratan Eropa dan Amerika, tetapi kini tiba-tiba muncul sebagai tren di seluruh dunia, bahkan di negara-negara Muslim. Lalu apa dan siapakah Valentin itu? Mengapa perayaan yang jatuh setiap tanggal 14 Februari itu begitu melegenda sekarang? Mengapa kawula muda yang tidak merayakannya dibuat merasa seperti ketinggalan zaman?
Sesungguhnya, demokrasi yang saat ini dijalankan saat ini jauh dari cita-cita demokrasi yang pernah dicanangkan oleh para funding father kita. Demokrasi yang kita miliki saat ini masih terlalu liberal dan mudah dikooptasi oleh kepentingan pemodal. Substansi demokrasi sebagai cara untuk menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa justru berakibat sebaliknya, menciptakan kemiskinan dan pembodohan.