Tools
A+ R A- wide normal
  • Skip to content

logo

  • Home
  • Profil
    • Salam Ketua Umum
    • Sejarah HMI
    • Tema Kepengurusan
    • Struktur Pengurus
    • Profil Pengurus
    • Profil Cabang-cabang
      • Cabang-cabang Utara
      • Cabang-cabang Barat
      • Cabang-cabang Tengah
      • Cabang-cabang Timur
      • Cabang-cabang Sumatra Raya
      • Cabang-cabang Papua
    • Kontak Kami
  • Lembaga
    • LDMI
      • Tentang LDMI
      • Taushiyah
      • Kuliah Jumat
    • LSB
      • Tentang LSB
      • Cerpen
      • Puisi
      • Slilit
  • Aktivitas
    • Pernyataan Sikap
    • Kegiatan PB HMI
    • Kegiatan Cabang
    • Kliping Media
    • Foto Kenangan
  • Artikel
    • Opini
    • Pidato
    • Kolom Ketua
  • Beasiswa & Seminar
    • Beasiswa
    • Seminar
  • Download
    • Hasil Kongres XXVII
    • Lagu Perjuangan
    • Buku Tentang HMI
  • Buku Tamu
  • Pustaka
Berita Terhangat
Sikap Nilai HMI : Oleh: Bahrul Amsal Merujuk pada Anthony Giddens...
Korupsi: Rakyat Tertindas Pejabat Terbahak : Berbicara tentang korupsi di negeri ini sudah san...
Krisis Kritis Mahasiswa : Oleh: Rusdy (Kader HMI Komisariat Fakultas Adab Da...
Masyarakat Sipil dan Demokratisasi Lokal : Oleh : Nurul Huda*) Pasca reformasi ekspresi m...
Tambang Emas Poboya; Antara Investasi dan Kerusaka... : Oleh: Mahadin Hamran (Ketua Umum HMI-MPO Cabang Pa...
Indonesia dan Masyarakatnya yang Hilang : Oleh: Bahrul Amsal (Ketua Komisi Pengembangan Inte...
Tangkaplah Pula Bajing yang Lain : Oleh: Alto Makmuralto (Novelis, Ketua Umum PB H...
Tradisi Intelektual Islam : Oleh: Mahadin Hamran (Ketua Umum HMI-MPO Cabang Pa...
Secara Substansi Kita Belum Merdeka: Refleksi HUT ... : Oleh: Zulkifli Abdullah (Kader HMI-MPO Cabang Mak...
Membumikan Nilai Ramadhan : Oleh: Zaenal Abidin Riam   Perputaran waktu kemb...

Buku

Masa Depan Tuhan

Masa Depan Tuhan

Oleh: Komaruddin Hidayat ...

Membumikan Nilai Ramadhan

Tuesday, 09 August 2011 17:37 redaksi
Tweet

Oleh: Zaenal Abidin Riam

 

Perputaran waktu kembali mengantarkan manusia beriman kepada sebuah momen penting dalam sejarah kehidupan seorang insan. Ramadhan, demikian orang mengenalnya, merupakan bulan spesial dimana pemandangan tak lazim berubah familiar, seolah nuansa religiusitas turut mewarnai bulan ini. Dari anak usia tiga tahun sampai orang dewasa, tiba-tiba terdorong untuk meramaikan mesjid. Di setiap sudut kita melihat jumlah jamaah meningkat tajam dari sebelumnya. Orang yang tadinya bertetangga namun tidak saling mengenal karena kepungan pekerjaan, sontak menjadi akrab dan merapatkan tali silaturrahim.

 

Seakan tidak mau ketinggalan  kereta, aparat pemerintah pun ramai-ramai memberikan ucapan selamat berpuasa, baik lewat media cetak maupun elektronik—bahkan wajah mereka hampir setiap hari muncul di TV hanya demi melafazkan beberapa potong kata: “Selamat berbuka”. Suasana ini juga tampak mewarnai kaum muda. Kalau sebelumnya mereka malas sholat, maka di bulan ramadhan terjadi pembalikan 360 derajat. Sholat tarwih yang jumlah rakaatnya lumayan banyak, turut dilibas, begitu pula dengan sholat shubuh—yang padahal biasanya mereka masih merayakan mati kecil (baca: tidur shubuh) pada waktu tersebut.

Ketika ramadhan coba diteropong dari segi substansi, maka tirai kesemuan yang menyelimuti dari luar akan tersingkap, sehingga realitas murni mampu menuturkan dirinya sendiri. Lalu barulah manusia tersadar jika fenomena musiman saat ramadhan hanya menomorsatukan aspek ritual dengan mengabaikan aspek substansi. Dengan kata lain, hanya menanamkan norma, bukan membumikan nilai.

 

Sekeras apapun kita menyangkal, namun di bagian penghujung kita harus tetap obyektif mengakui bahwa kondisi saling memberi antar tetangga (penerjemahan dari buka puasa bersama di mesjid), pejabat ramai-ramai memberikan ucapan selamat berpuasa, sampai muda-mudi yang tiba-tiba rajin meramaikan mesjid, masih berkisar pada wilayah normatif belaka. Belum lagi, bahwa berbagai tindakan di atas pada esensinya hanya merupakan sebuah bentuk pengkerangkengan terhadap amalan-amalan tertentu, sebab dengan berlalunya ramadhan, maka muncul pula diskontinuitas tindakan, sehingga mata kembali disuguhi mesjid yang kosong melompang di waktu shalat, misalnya. Pertanyaannya, di manakah gerangan manusia Islam yang selama sebulan aktif meramaikan sholat berjamaah di mesjid? Lalu kita akan mudah menjawab: Mereka telah kembali ke habitat aslinya!

 

Upaya reorientasi pemahaman makna ramadhan sepatutnya menjadi hal urgen. Pada hakikatnya, pelaku puasa tidak hanya dituntut untuk menghadirkan puasa selama satu bulan saja, akan tetapi lebih dari itu, mereka dituntut agar menghadirkan ramadhan di sepanjang bulan lainnya. Caranya, ibadah tidak lagi diserap sisi normatifnya melainkan aspek nilai sebagai yang paling utama. Maka di luar ramadhan orang tetap peduli pada si miskin sebagai manifestasi zakat; kelima panca indera tetap dipuasakan di luar ramadhan sebagai perpanjangan tangan dari shaum; makna baru tidak lagi dipusatkan pada pembelian pakaian baru, karena itu pertanda hanya membarukan jasmani sementara rohani tetap dibiarkan tua dan renta. Lebih jauh, justru hati dan akal yang perlu lebih mendapatkan sentuhan kebaruan.

 

Seharusnya kita tidak perlu heran kalau selama ini puasa kita tidak mampu bertindak sebagai mesin perubah, sebab pada dasarnya kita tetap belum mampu melakukan rekonstruksi paradigma berpuasa. Justru sebaliknya, kita keasyikan melanjutkan tatanan norma lama tanpa melibatkan usaha dekonstruksi dan rekonstruksi pemahaman. Akibat rasional dari logika tasalsul—dinyatakan tasalsul karena hanya berputar pada wilayah pengulangan norma—yang secara inheren dibangun dan dilanggengkan setiap ramadhan, maka manusia malah terperangkap pada cara pandang dan tindakan bengkok, sehingga kondisi orang Islam antara sebelum dan sesudah bulan suci ibarat pinang dibelah dua: tak ada beda secuilpun.

 

ZAENAL ABIDIN RIAM, Ketua Korp Pengader (KP) HMI MPO Cabang Makassar

< Prev   Next >
Joomla 1.6
HMI MPO on Facebook | Milis HMI MPO | Milis Cabang | Web Mail PB HMI | Redaksi
PBHMI.Net @2011